Motivasi Semangat

Lebih Banyak Bekerja daripada Berbicara

Motivasi Semangat

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Begitu juga untuk mengakhiri.

Motivasi Semangat

Hidup penuh maaf adalah jalan bagi kelapangan dan kedamaian jiwa.

Motivasi Semangat

Otot-otot wajah yang kita gunakan saat tersenyum, bisa membuat kulit wajah lebih lentur.

Motivasi Semangat

Kenangan indah dan kenangan buruk masa lalu adalah gairah menjalani masa depan.

Motivasi Semangat

Pertanyaan Tentang Hidup Anda.Hanya anda jawabnya

Motivasi Semangat

Apa yang kita berikan ke orang lain, akan kembali kepada kehidupan kita

Motivasi Semangat

Manusia dapat mengubah kehidupnya dengan mengubah sikap mereka

Jumat, 15 Maret 2013

Kumpulan foto Ilham_Nugroho

Kamis, 22 November 2012

Owl City & Carly Jepsen-Good Time

New Realese: Enjoy watching


Selasa, 21 Agustus 2012

Peninggalan Kerajaan Singosari

Beberapa hari yang lalu, saya melakukan perjalanan gowes dengan tujuan utama yaitu bersilaturahmi lebaran hari kedua ke rumah sahabat saya di daerah Singosari,Malang. Tak disangka dalam perjalanan saya dibuat takjub dengan beberapa peninggalan kerajaan singosari yang luar biasa indahnya dari beberapa candi dan sebuah arca. Maklum, saya hanya tahu dahulu di buku pelajaran dan saat kemarin saya langsung melihatnya. Subhanaallah, inilah sedikit kenangan dokumentasi perjalanan kemarin..
Arca Dwarapala



Tempat Pemandian Umum 







Bike To Campus



Selamat sore bagi yang membaca postingan ini disore hari.
Kali ini saya ingin mengangkat tentang Bike To Campus atau sering familiar dengan sebutan Gowes. Gowes sendiri merupakan olahraga yang sudah lama di Indonesia. Alat yang digunakan tak lain tak bukan adalah sepeda. Saat ini sepeda mengalami perkembangan yang sangat luar biasa disesuaikan dengan kebutuhan atau fungsi dari masyarakat saat ini. Sebagai contoh ada sepeda untuk santai atau sering disebut urban bike, sepeda olahraga dan masih banyak lagi.

Seiring perkembangan zaman juga, berbudaya bersepeda/gowes mulai mengalami penurunan, hal ini didukung oleh semakin berkembangnya alat transportasi yang ada dimana masyarakat umum dapat membeli alat transportasi tersebut. Hal tersebut tak terkecuali Mahasiswa, hari gini masih jalan kaki, capek booo.,pegel dan sebaginya, ya satu keinginan mereka yaitu banyak fungsi mempunyai sepeda motor atau alat kendaraan lainnya selain sepeda ontel.

Setiap kampus memiliki target untuk meningkatkan kuantitas jumlah mahasiswanya. Hal ini juga sangat berdampak atau sangat dibilang mempunyai korelasi yang kuat dengan jumlah kendaraan yang meningkat. Sisi negatifnya adalah luas lahan kampus bagi lahan parkir sangatlah kurang untuk menampung jumlah kendaraan mahasiswa yang ada. Alhasil, kendaraan mahasiswa terkadang tidak teratur dengan baik, dan yang lebih parahnya lagi, hal ini akan membuat perluasan lahan parkir baru. Perluasan lahan parkir baru sama dengan mengurangi lahan hijau ataupun lahan yang lainnya dimana sebenrnya bukan diperuntukkan untuk lahan parkir. Eits,yang satu ini juga tidak kalah berdampak, yaitu maslah kesehatan kampus.

Semua problematikan diatas, beberpa kampus sudah ada yang dapat menanganinya dengan baik. Namun, namanya beberpa, masih banyak pula yang belum memikirkan masalah tersebut. Salah satu solusi yang bisa sangat merubah keadaan tersebut adalah kembali menggalakkan kembali budaya bersepeda, selain sehat dampak lainnya seperti sosial dan sebaginya dapat teratasi. Beberapa manfaat bersepeda ke kampus menurut versi saya sebagai berikut:
1. Hemat bahan bakar minyak (Tenaga Manusia). Setidaknya kita dapat mengurangi BBM yang kita pakai
2. Sehat bagi tubuh
3. Lahan parkir kampus tidak bertambah luas
4. Udara kampus menjadi segar alhasil sehat
5. Sebagai sarana interaksi sosial antar civitas akademika kampus. Siapa tahu ada clubnya kan keren..

So.. yuk kita jaga bumi kita ini dengan hal yang kecil. Jika bukan kita,siapa lagi? Perubahan besar dimulai dari perubahan kecil. YUK GOWES.. SALAM GOWES

Ilham Nugroho


Kamis, 02 Agustus 2012

Mental disuapin VS mencari


Oleh: William Lautama
Saya pernah menjadi customer service bagi teman-teman mahasiswa yang ingin mendaftar beasiswa. Saya ingin membantu mereka dengan sharing pengalaman saya sebagai penerima beasiswa sebelumnya & penyusunan project di kampus lengkap sampai dengan informasi mengenai FAQ, fasilitas & syarat yang harus dipenuhi oleh aplikan yang ingin apply untuk mendapatkan beasiswa. Semua, saya tulis di sini dan saya share di group facebook tempat berkumpulnya calon aplikan beasiswa.
Esok harinya, 2-3 orang bertanya hal-hal yang jawabannya sudah ada namun tetap saya jawab sambil mengarahkan mereka untuk membaca informasi lengkapnya. Awalnya, saya pikir cara ini cukup efektif namun ternyata saya salah… Ibarat kamu sudah melakukan presentasi dengan baik lalu saat sesi tanya jawab, penonton bertanya hal yang sudah kamu presentasikan. Penonton… Ke mana saja daritadi?
Semakin banyak orang bertanya hal-hal sepele, yang pernah ditanyakan terus ditanyakan lagi oleh yang lain padahal bisa dijawab dengan common sense dan sudah ada di FAQ bahkan ada jawaban tepat di atas pertanyaan mereka namun saya masih merespon mereka, kenapa? Simple saja, saya ingin memperbesar kapasitas keSABARan!
Ada beberapa teman-teman penerima beasiswa & tim rekrutmen dari korporat yang menjadi customer service. Kita pernah emosi sekaligus kasihan. Ya, sangat kasihan karena calon aplikan ini sedikit sekali yang memiliki attitude ‘read first then ask a question’. Mereka hanya ingin mendapatkan informasi dengan mudah dan langsung bertanya tanpa membaca padahal apa yang mereka cari ada di sana.
Saya selalu diajarkan untuk ‘seek first then ask’ maksudnya cari dahulu dengan kemampuan sendiri, kalau butuh effort ya saya lakukan karena saya berjuang untuk mendapatkan apa yang saya cari. Kalau ada istilah/ilmu baru kan bisa tanya mbah google yang mahatahu. Kalau masih ngak nemu atau ngak ngerti baru bertanya.
Mentor saya di Young On Top, mas Billy Boen pernah tweet hal yang serupa :
  • Jd anak muda JANGAN selalu MINTA DISUAPIN (malas). Kalo bisa cari tau sendiri, knp tdk? Ada GOOGLE. #YOT
  • Bnyk bgt anak muda dikit2 nanya. Seneng bgt BERGANTUNG ya sama org lain drpd gunain kapasitas diri sndiri (malas)? #YOT
  • Bayi makan disuapin krn blom bisa. Masa sampe umur 20 msh minta disuapin? Yg bener aja!?! (Malas). GOOGLE! #YOT
  • Nanya boleh. Tp jgn nanya sesuatu yg bisa dcari dgn mudah. Ini MALAS namanya. Bgini aja malas.. mau sukses? Come on! #YOT
  • YES! Betul! RT @arisfirman: @BillyBoen kalau memang ga tau mas? Masa ga nanya? Mksdnya usaha sndiri dulu br tanya bukan?
  • kalau hal2 kecil aja nanya, gimana handling with bigger problems
Saya setuju 100% dengan tweet di atas! Banyak bertanya itu bagus supaya tidak tersesat di jalan #PeribahasaBanget tapi kalau mengulang pertanyaan yang telah dijawab sebelumnya itu namanya malas. Bertanya adalah awal dari keingintahuan, lebih baik kita mencari informasi yang SUDAH TERSEDIA lebih dahulu. Ini persoalan mental, mental diSUAPin atau mental menCARI.Kalau masih punya mental diSUAPin, kapan suksesnya? Bakal ketinggalan, mereka yang aktif menCARI akan sukses lebih cepat dan lebih baik.

Minggu, 29 Juli 2012

Studi di Tanah Rantau, Euforia Bisa Jadi "Petaka"

JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki tahun ajaran baru, banyak siswa-siswi yang memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, menempuh pendidikan lanjutan di tanah rantau. Baik dalam, mau pun luar negeri.

Di fase-fase awal atau sebelum waktu keberangkatan, semua orang biasanya larut dalam euforia khas. Di mana pada saat ini para pelajar dan mahasiswa akan membayangkan serunya menempuh pendidikan dalam balutan suasana baru.

Akan tetapi, antusiasme itu bisa berubah menjadi "petaka" kecil jika tanpa persiapan matang. Para pelajar/mahasiswa biasanya akan dililit perasaan kangen, persoalan perbedaan budaya, dan masalah-masalah lainnya yang akhirnya mengganggu rencana besarnya, menempuh studi.
Di fase-fase awal atau sebelum waktu keberangkatan, semua orang biasanya larut dalam euforia khas. Di mana pada saat ini para pelajar dan mahasiswa akan membayangkan serunya menempuh pendidikan dalam balutan suasana baru.
Dosen Psikologi Universitas Bina Nusantara Greta Vidya Paramitha mengatakan, adaptasi dengan lingkungan baru tidak dapat dilakukan hanya dalam satu waktu, tetapi secara terus menerus. Teori ini berlaku untuk pelajar mau pun mahasiswa yang melanjutkan studi di luar negeri, atau berpindah daerah di wilayah Indonesia.

"Adaptasi itu proses yang harus dilakukan terus menerus," kata Greta kepada Kompas.com, Kamis (26/7/2012), di Jakarta.

Menurut Greta, ada beberapa tahap saat seseorang akan menemukan kendala di lingkungan barunya. Pertama adalah fase turis, di mana semua akan larut dalam euforia seperti saat sedang berbulan madu.

Setelah melewati fase itu, biasanya para pelajar atau mahasiswa mulai merasa kesal bahkan frustrasi saat sadar dengan perbedaan budaya yang semakin mencolok.

"Itu mendorong kita merasa jenuh, muncul homesick, dan menarik diri. Bahkan kita bisa makan atau tidur berlebihan," ujarnya.

Kantongi informasi
Untuk mengatasinya, kata Greta, sebelum berangkat ke tempat studi baru, para pelajar harus mencari informasi mengenai suasana dan kultur di tempat tujuan. Entah itu aturan dan kebiasaan tertentu, letak geografis, cuaca, dan lain sebagainya.

Saat di sana, para pelajar dan mahasiswa harus membuka diri dengan lingkungan sekitar. Perbanyak berkenalan dengan teman-teman baru tanpa perlu larut dalam kebudayaan mereka. Minimal, itu akan merangsang kita untuk memahami perbedaan.

"Harus fleksibel dan jangan egois, manfaatkan teknologi informasi, serta bawa barang-barang yang sekiranya dapat mengobati perasaan kangen kita pada seseorang," kata Greta.

Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary



Sumber: Kompas

Petani Enggan Tanam Kedelai

MEDAN, KOMPAS.com -Para petani enggan menanam kedelai karena hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi. Apalagi, kedelai lokal kalah bersaing dengan kedelai impor.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo Agustoni Tarigan, Jumat (27/7/2012) mengatakan, dalam empat tahun terakhir ini tidak ada lagi petani Karo yang menanam kedelai. Alasannya, kedelai tidak menjanjikan. Petani akhirnya lebih banyak beralih ke tanaman jagung dan padi selain sayuran sebagai tanaman utama.          
Menurut Agustoni, ada beberapa faktor yang menyebabkan petani meninggalkan kedelai. Pertama, produktivitasnya sangat rendah. Kedua, kedelai lokal kalah bersaing dengan kedelai impor.          
Hal senada dikatakan Kepala Sub Bagian Program Dinas Pertanian Sumatera Utara Lusyantini. Dalam empat belas tahun terakhir, produksi kedelai di Sumut terus menurun karena petani merugi.          
Tahun 2011, produksi kedelai hanya 11.425 ton setahun, sementara tahun ini diperkirakan tinggal 6.694 ton. Padahal, pada tahun 1997 sampai 1998, produksi kedelai di Sumut mencapai 32.000 ton per tahun.          
Lusy menjelaskan, petani terus merugi lantaran harga kedelai lokal yang terlampau murah. Kedelai lokal hanya laku seharga Rp 3.500 sampai Rp 5.000 per kilogram. Itu jauh lebih murah dibandingkan kedelai impor yang mencapai Rp 8.000 per kilogram.          
Belum lagi, lanjutnya, produksi kedelai yang hanya berkisar 1,1 ton sampai 1,2 ton per hektar. Petani baru bisa menikmati hasil penen jika produksi kedelai mencapai 2,5 ton per hektar. "Itu jika petani mempunyai lahan minimal satu hektar. Di Sumut, sebanyak 38 persen petani atau sekitar 760.000 keluarga petani memiliki lahan kurang dari setengah hektar per keluarga," ujar Lusy.
Editor :
Rusdi Amral


Sumber: Kompas

7 Manfaat Bersepeda

KOMPAS.com - Akhir-akhir ini, minat masyarakat terhadap olahraga bersepeda terus meningkat. Hal ini dapat dilihat dari terus  bermunculannya komunitas olahraga bersepeda yang baru.
Bersepeda merupakan salah satu jenis olahraga yang menarik dan dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang status usia dan jenis kelamin. Beberapa penelitian bahkan telah menunjukkan sejumlah keuntungan dari aktivitas sederhana ini sebagai alat untuk mempromosikan kesehatan secara keseluruhan.

Ingin tahu lebih banyak apa saja manfaat kesehatan dari ngegowes? Berikut ini adalah ulasannya:

1. Bersepeda baik untuk jantung Anda: Olahraga bersepeda erat hubungannya dengan peningkatan kebugaran kardiovaskular atau kesehatan pembuluh darah dan jantung, serta penurunan risiko penyakit jantung koroner.

2. Bersepeda baik untuk otot-otot: Mengendarai sepeda sangat baik untuk mengencangkan dan membangun otot terutama di bagian bawah tubuh seperti betis, paha, dan bagian belakang.

3. Menjaga ukuran pinggang tetap ideal: Anda dapat membakar banyak kalori saat bersepeda, terutama ketika harus menggowes lebih cepat daripada biasanya. Bersepeda tidak hanya efektif dalam membantu Anda menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan metabolisme tubuh.

4. Perpanjang umur: Bersepeda adalah cara yang terbaik untuk meningkatkan umur Anda. Sejumlah riset menunjukkan bahwa melakukan aktivitas bersepeda secara rutin telah dikaitkan dengan penambahan usia, bahkan ketika harus disesuaikan dengan risiko cedera saat mengendarai sepeda.

5. Bersepeda baik untuk koordinasi: Aktif menggerakan kedua kaki untuk mengayuh, sementara kedua tangan mengendalikan kemudi merupakan praktik yang baik untuk melatih keterampilan koordinasi tubuh Anda.

6. Baik untuk kesehatan mental: Bersepeda telah dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental.

7. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh: Bersepeda dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh, sekaligus menjadi alat proteksi terhadap jenis penyakit kanker tertentu.
Sumber: Kompas
Sumber :
Editor :
Asep Candra





Omzet Bank Sampah di Palembang Rp 9 Juta


PALEMBANG, KOMPAS.com -- Omzet Bank Sampah Perumahan Griya Bahagia di Palembang, Sumatera Selatan, mencapai Rp 9 juta. Pendapatan ini diperoleh dari menjual sampah, pupuk kompos, serta kerajinan dari sampah.
Pemasaran bank sampah yang baru berusia empat bulan itu sangat terbantu oleh pesanan dari lingkungan Pemerintah Kota Palembang. Dari penjualan sampah kering yang disetor nasabah, bank sampah yang diresmikan Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, Sabtu (14/4/2012) itu memperoleh Rp 1,5 juta. Bank sampah itu memiliki 75 nasabah dari warga sekitar.
"Sampah yang dijual berupa koran dan botol plastik. Penjualan dua bulan sekali dan uangnya diberikan ke nasabah sesuai sampah yang mereka setorkan," kata Direktur Bank Sampah Perumahan Griya Bahagia Syukron Nikmah.
Kantong dan kemasan plastik yang tak bisa dijual digunakan sebagai bahan pembuatan kerajinan seperti topi, rompi, tas, serta berbagai macam dompet.
Hasil kerajinan ini dijual dengan harga Rp 30.000 hingga Rp 150.000. Pesanan telah banyak berdatangan dari lingkungan Pemerintah Kota Palembang. Sampah basah berupa sayuran dan nasi diolah menjadi pupuk kompos yang dijual dengan harga Rp 10.000 per lima kilogram.
Setiap bulan, bank sampah Griya Bahagia menghasilkan 400 kg pupuk kompos. Pupuk kompos banyak dibeli oleh Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan dan Pemakaman Kota Palembang untuk keperluan pertamanan kota.
Wali Kota Palembang Eddy Santana mengatakan, bank sampah dapat menjadi sarana efektif di tingkat lingkungan untuk mengatasi banyaknya sampah kota, karena mampu mengurangi sampah terbuang hingga 80 persen. Saat ini, Palembang menghasilkan 520 ton sampah tiap hari.
Bank sampah diharapkan terdapat di tiap RT di Kota Palembang yang jumlahnya 4.800 RT. Namun, hal ini sangat bergantung pada ketua RT dan warga setempat.
Editor :
Nasru Alam Aziz


Sumber: Kompas

Bea Masuk Impor Dibebaskan, Pemerintah Rugi Rp 400 Miliar


JAKARTA, KOMPAS.com - Akibat kekeringan radikal yang terjadi di Amerika Serikat (AS), pasar tempe-tahu di tanah air ikut menerima imbasnya. Harga kedelai merangkak naik sehingga tak terjangkau lagi oleh perajin tahu tempe untuk menutupi biasa produksi maupun operasi mereka. Dalam beberapa hari ini, tempe tahu hilang dari peredaran.
Pemerintah meresponnya dengan kebijakan jangka pendek. Salah satunya, ingin membebaskan bea masuk impor kedelai. Firman Soebagyo, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI mengatakan, apabila bea masuk impor kedelai dibebaskan yang akan menerima keuntungan adalah importir.
"Yang diuntungkan lagi-lagi importir. Apabila mereka mendapatkan kebebasan bea masuk. Kalau penyelesaiannya instan. Saya kira itu tidak menarik bagi perkembangan perekonomian kita," kata Firman Soebagyo, saat diskusi Sindo Radio bertajuk "Memble Tanpa Tempe" di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7/2012).
Menurut Firman, langkah membebaskan bea masuk impor dipandang kebijakan yang terbilang instan. Dengan dilakukannya kebijakan tersebut pemerintah ditaksir akan menderita kerugian sebesar Rp 400 miliar, setidaknya dalam kurun Agustus sampai Desember.
Agar bangsa ini dapat berdaya secara pangan, kata Firman, butuh melakukan beberapa hal yang tentunya membutuhkan komitmen. Terutama perlu anggaran yang memadai agar bisa menunjang swasembada pangan. Pemerintah diharuskan memusatkan pekerjaannya dalam bidang pangan. Serta distibusi pangan mesti dilakukan secara baik dan terkelola. Tak lupa pemerintah mesti mempertimbangkan aspek keterjangkau terhadap daya beli masyarakat. Firman menaruh harapan pada Badan Urusan Logistik (Bulog) yang bisa dikerahkan dalam mengatur ketersediaan dan distribusi.
"Bulog bisa diberdayakan untuk mengatur ketersediaan dan distribusi. Sayangnya, kita belum punya lembaga yang kuat," kata Firman.
Editor :
Hertanto Soebijoto


Sumber: Kompas